Pengertian CSR

 

CSR (Corporate Social Responsibilies)  adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya  untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, melainkan pula untuk pembangunan sosial-ekonomi kawasan secara holistik, melembaga dan berkelanjutan.

 

Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan dan bahkan sering diidentikkan dengan CSR adalah corporate giving, corporate philanthropy, corporate community relations, dan community development.

 

Ditinjau dari motivasinya, keempat nama itu bisa dimaknai sebagai dimensi atau pendekatan CSR.   Jika   corporate  giving  bermotif  amal  atau  charity,  corporate  philanthropy  bermotif kemanusiaan, dan corporate community relations bernafaskan tebar pesona, maka community development lebih bernuansa pemberdayaan (Briliant dan Rice, 1988; Burke, 1988; Suharto, 2007a).

 

Dalam  konteks  pemberdayaan,  CSR  merupakan  bagian  dari  policy  perusahaan  yang dijalankan secara profesional dan lembaga. CSR kemudian identik dengan CSP (corporate social policy), yakni strategi dan roadmap perusahaan yang mengintegrasikan tanggung jawab ekonomis  korporasi  dengan  tanggung  jawab  legal,  etis,  dan  sosial  sebagaimana  konsep piramida CSR-nya Archie B. Carol (Suharto, 2007a) .

 

Dalam literatur pekerjaan sosial (social work), CSR termasuk dalam gugus Pekerjaan Sosial Industri,  industrial  social  work  atau  occupational  social  work  (Suharto,  2007a).  Pekerjaan Sosial Industri mencakup pelayanan sosial internal dan eksternal.

 

Beragam  cara  dilakukan  perusahaan  untuk  menjalankan  CSR.  Ada  perusahaan  yang melaksanakan  CSR  sendiri,  mulai  dari  perencanaan  hingga  implementasinya.  Ada  pula perusahaan  yang  mendirikan  yayasan,  bermitra  dengan  pihak  lain  atau  bergabung  dalam konsorsium.

 

Model mana yang dipilih sangat tergantung pada visi dan misi perusahaan, sumberdaya yang dimiliki, serta tuntutan eksternal (misalnya kondisi masyarakat lokal, tekanan pemerintah atau LSM).

 

Manfaat bagi masyarakat, antara lain:

aktivitas dan peluang ekonomi, employment, akses terhadap skill dan teknologi, infrastruktur yang meningkat, perlindungan terhadap lingkungan, kesehatan serta investasi social.

Keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan jika melakukan program Corporate Social Responsibility, yaitu:
Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan image perusahaan Perbuatan destruktif pasti akan menurunkan reputasi perusahaan, sebaliknya kontribusi positif pasti akan mendongkrak image dan reputasi positif perusahaan. Image / citra yang positif ini penting untuk menunjang keberhasilan perusahaan.

Contoh : perusahaan indosat

sebagai bentuk refleksi komitmen dan tanggungjawab Indosat sebagai perusahaan di Indonesia yang peduli atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, serta upayanya untuk senantiasa berkarya, memberikan manfaat, serta mengajak peran serta seluruh stakeholder untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih baik, yang merupakan terjemahan dari keinginan masyarakat pada umumnya untuk terlibat secara aktif dalam berbagai program sosial Indosat. perusahaan yang menerapkan Corporate Social Responsibility adalah PT Indosat.

Manfaat CSR  terhadap perusahaan (Wikipedia, 2008):

 

  1. Brand   differentiation.  Dalam  persaingan  pasar  yang  kian  kompetitif,  CSR  bisa memberikan  citra perusahaan yang khas, baik, dan etis di mata publik yang pada gilirannya  menciptakan customer loyalty. The Body Shop dan BP (dengan bendera “Beyond  Petroleum”-nya), sering  dianggap  sebagai memiliki  image  unik  terkait isu lingkungan.
  2. Human resources. Program CSR dapat membantu dalam perekrutan karyawan baru, terutama yang memiliki kualifikasi tinggi. Saat interviu, calon karyawan yang memiliki pendidikan  dan  pengalaman  tinggi  sering  bertanya  tentang  CSR  dan  etika  bisnis perusahaan, sebelum mereka memutuskan menerima tawaran. Bagi staf lama, CSR juga dapat meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi dalam bekerja.
  3. License  to   operate.    Perusahaan   yang   menjalankan   CSR   dapat   mendorong pemerintah  dan  publik  memberi  ”ijin”  atau  ”restu”  bisnis.  Karena  dianggap  telah memenuhi standar operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas.
  4. Risk management. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan.

Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal  korupsi,  kecelakaan  karyawan,  atau  kerusakan  lingkungan.  Membangun budaya ”doing the right thing” berguna bagi perusahaan dalam mengelola resiko-resiko bisnis.

 

SUMBER

Edi Suharto, PhD2

Suharto, Edi (2007a),  Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat Tanggungjawab Sosial

Perusahaan (Corporate Social Responsibility), Bandung: Refika Aditama

 

Wikipedia   (2008),    Corporate  Social  Responsibility, http://en.wikipedia.org/wiki/Corporate social_responsibility (diakses 6 Februari)

 

http://www.indosat.com

 

_