Latest Entries »

B. Inggris Bisnis 2

Tugas 3

The simple future tense BE GOING TO

A. Pengertian :

The simple future tense menujukan suatu perbuatan atau keadaan yang akan terjadi pada suatu ketika dimasa akan datang.

Misalnya  :       I shall go to new York.

Saya akan pergi ke new York

He will come soon

Ia akan datang segera

B. Bentuk kata kerja dalam “The simple future tense”

Shall / will + kata kerja asal (invitative)

affirmative

negative

I shall be . . . I shall not be
you will be . . . you not be

verb

He he

to be

She she
It it
will shall be we shall not be
you they you they

Introgative

Short answers

will you be . . . ? yes, I will
No, I will not

verb

will he be . . . ? yes, he will

to be

No, he will not
will they be . . . ? yes, they will
No, they will not

Perhatikan :

  1. Untuk “ I  “ dan “ we “ dipakai “shall” dan untuk “you”, “ he “, “ she “, “ it “, “ they “ dipakai “ will ”.
  2. Jika “ I “ bergabung dengan “ noun ” atau “ pronoun “ ( second or third person ) yang lain seperti “ You and I “ atau “ Tom and I “ dan menjadi pokok kalmia, maka dipakai kata pembantu “ will “, tidak dipakai “ shall “.

You and I (Tom and I) will go on the four o’clock train.

  1. Singkatan : will = ‘ll, misallnya : I’ll, he’ll, she’ll, you’ll, they’ll.
  2. Untuk will not disingkat menjadi won’t.

Shall not disingkat menjadi shan’t

C. Penggunaan “ The Simple Future Tense “ :

  1. Untuk menyatakan perbuatan, peristiwa kenyataan akan terjadi dan tidak dapat dielakan.

Contoh :    a. I shall be twenty-one on Sunday.

b. tomorrow will be Sunday.

c. we shall be men or women in the future.

  1. untuk menyatakan suatu perbuatan, peristiwa atau kwnyataan akan terjadi berdasarkan kondisi – kondisi atau syarat – syarat tertentu dan tidak menurut kehendak seseorang.

Contoh :    a. You will get wet if you go out without an umbrella.

b. I shall be very sad if my old friend dies.

c. he will come if you ask him

  1. untuk menyatakan suatu perbuatan, atau kenyataan yang akan terjadi menurut dugaan atau harapan si embicara.

Contoh :    a. I hope that I shall succeed

b. I am afraid I shan’t win this game of chess.

c. I hope I shall see you again.

  1. Untuk menyatakan suatu perbuatan, peristiwa atau kenyataan yang sudah menjadi kebiasaan dan masih akan terjadi berulang – ulang dimasa yang akan datang.

Contoh :    a. I shall come enery year.

b. He will go to the technical training class every outher day.

c. Every Sunday, they will go for a long walk.

  1. Untuk menyatakan suatu perbuatan yang akan dilakukan menurut kehendak seseorang atau sipembicara dimasa akan datang dan biasanya disertai dengan kata kata keterangan waktu seperti :

Tomorrow                                           the they after tomorrow

Tomorrow morning                             next week

Tomorrow afternoon                           next month

Tomorrow evening                              next year

This afternoon                                     next Sunday

From now on                                       in a month

In the future                                        next holiday

Contoh :    a. when will you be in London again?

b. we shall go on the four o’clock train.

c. I shall call on you on Sunday.

  1. Untuk menyatakan suatu ketepatan (hati , niat) dan kemauan keras untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan “waktu akan datang “(future tense).

Contoh :    a. if you are going to behave like this, I shall go home.

b. we shall never have dealings with that company again.

c. we shall deferend our island, whatever the cost my be. We shall fight  in the fields and streets, we shall fight in the hills : we shall never surrender.

Dari kalimat – kalimat a, b, c yang terurai diatas kita dapat mengetahui bahwa bahwa kata pembantu “ shall “ untuk orang pertama “ I “ dan “ we “ boleh digunakan untuk menyatakan kemauan dan ketetapan hati seseorang. Tidak menyatakan  “ future tense “ tetapi untuk tujuan ini pada umumnya digunakan “will” untuk semua orang (all person).

Contoh :    a. I will make this radio work even if I have to stay up all night.

b.  I will go to radio the dance, if  I want to !

c. why will you always smoke in the bed ?

7.    Bentuk will not dalam kalimat negative untuk menyatakan suatu penolakan (refusal),  tidak   menyatakan waktu akan datang (future tense).

Contoh :    a. I am sorry to disappoint you, but I will not go there again.

b. she will not do as she is told.

c. If  he will not come we’ll ask someone else.

  1. Untuk menyatakan suatu keinginan atau kehendak (willingness). Dalam hal ini “will” digunakan untuk semua orang (all person).

Contoh :    a. If you find the exercise too difficult, I will help you.

b. he says he will agree to our proposals now.

c. I’m sure he will let us go early today.

Perhatikan :

will “ dalam uraian no.6 dan 7, harus dibaca dengan tekanan keras dan tegas.

Tetapi “will” dalam uraian no. 8, tidak dibaca dengan tekanan.

  1. Untuk menyatakan penawaran jasa. Dalam hal ini, will dipakai untuk orang kedua (second person) dan shall untuk orang ketiga dan kesatu (the first and third persons).

Contoh :    a. shall I fetch your coat for you ?

b. will you have a cigarette ?

c. shall the maid make you some tea and bring it to your room ?

Perhatikan :

will you dapat diartikan would you like to ?

shall I ? dapat diartikan would you like me to . . . ?

  1. Untuk menyatakan suatu permintaan bantuan. Dalam hal ini “will” untuk orang kedua (the second person), dan tidak hanya untuk menyatakan waktu akan datang, juga untuk waktu sekarang.

Contoh :    a. will you please close the windows for me.

b. will you go to the post office this afternoon and got me a postal order for   eight shillings.

c. will you help me carry this heavy bag, please ?

11. Untuk menyatakan suatu janji. Dalam hal ini digunakan “shall” untuk “you”, “he”, “she”  dan “they” (the second and third persons), “will” untuk “we” and “I

Contoh :     a. if you pass your examinations, you shall have yhe bicycle you want.  (promise)

b. I won’t forget lilte Margaret’s birthday. I will send her a   present.(promise)

c. I (we) will repay you the money without fail on the first day of next month. (promise).

12. Untuk menyatakan suatu ancaman (threat). Dalam hal ini “shall” untuk orang kedua dan ketiga (the second and third person), dan “will” untuk orang pertama (the first person).

Contoh :    a. you shall have such a whipping if you ever do this again.

b. if you do that you shall be hanged.

c. If you won”t do as I tell you, you shan’t go to the party.

13. Untuk menyatakan suatu kesimpulan atau perkiraan. Dalam hal ini digunakan “will” untuk orang kedua dan ketiga. ( the seond and third persons).

Contoh :    a. Your name is Antonescu, I see. You will be rummaian, then?

b. he took the sleeping pills an hour ago. He will be asleep now.

14. Untuk menyatakan suatu perintah atau desakan. Dalam hal ini “shall” untuk orang kedua dan ketiga. (the second and third persons).

Contoh :    a. You shall obey your father.

b. My son shall bring the money to you tomorrow morning at nine  o’clock.

D. Bentuk “GOING TO“ ( THE GOING TO FORM).

The GOING TO Form is used to express Future Interention.

Bentuk GOING TO untuk menyatakan maksud atau keinginan akan melakukan suatu perbuatan diwaktu akan datang.

  1. Bentuk GOING TO dipakai bersama-sama dengan semua kata kerja kecuali “to go” and “to come”.

Am, is, are, (not) going to + stem (kata kerja asal)

  1. I am going to see the doctor tomorrow.
  2. Tom is going to play football next Sunday.
  3. We are not going to have lunch until two o’clock.
  4. I know that you are going to say.
  5. I am  going to write to him tomorrow.
  6. She is going to start learning English soon.

Tetapi salah bila mengatakan :

I am going to go the cinema tonight.

He is going to come to se me on tomorrow

Harus dikatakan :

I am going to the cinema tonight.

He is coming to see me on Tuesday.

D. Penggunaan bentuk GOING TO :

    1. Untuk menyatakan maksud atau keinginan akan melakukan suatu peerbuatan dalam waktu dekat dalam hal ini dapat disertai dengan keterangan waktu atau tidak.

Contoh :

  1. I am going to see Tom at the station at 6.0.
  2. I am going to write to Margaret this evening.
  3. He is going to write on the blackboard.
  4. He is going to jump into the river.
  5. He is going to lend me is bicycle.
  6. Untuk menyatakan suatu peristiwa atau kenyataan yang berkemungkinan besar akan segera terjadi menurut perasaan sipembicara.

Contoh :

  1. I thing it  is going to rain.
  2. He is very ill : I’m afraid he is going to die.
  3. That boy is going to be sick : he looks green.
  4. He is going to faint.
  5. I am afraid that the repairs to our house are going to cost a lot of money.
  6. Untuk menyatakan suatu peristiwa atau kenyataan pasti akan terjadi menurut rasa sipembicara.

Contoh :

  1. Look out ! that milk is going to boil over.
  2. My wife’s going to have a baby.

 

pengarang : wiliting

penerbit : toko buku harapan

Tugas pertemuan ke 2

Action speak louder than words

Things that might be useful is when when justice or honesty to reveal the good of all people are now giving testimony to a leader that no one of his subordinates or employees who commit fraud on company.

Originally fraud was not known, but some time later an employee committed fraud was revealed from one consumer who almost trapped by the lies of the employee who did the cheating, but the leader of the employee before anyone else knew about the fraud report after its leaders know about it repeated, then one consumer of such employees be witness to stop cheating employees.

And after that consumers were ready to testify to the leadership that is true fraud, employees were eventually called by the leader to provide information about the fraud that has been done. But he just asked for help to consumers who have given testimony not to give testimony to the leader, but the consumer does not want to because he acts according to the consumer is already outrageous.

Eventually the case was investigated by the leaders after collecting the testimony of several consumer, and employees who commit fraud are given in the form of sanctions on the leaders of the suspension (which means he was not given a job Selma six months) for his actions.

Written Expression

Amaliah (10208102)

Softskill Bahasa Inggris Bisnis 2

2011/2012

Hal 34

  • No.16

How much is a kilos of apples in the supermarket now

A                  B       C                              D

Jawaban

Jawabannya C, alasannya kata kilos tidak usah memakai S karena sudah diwakili oleh apples

yang menunjukan jumlah banyak

yang benar

How much is a kilo of apples in the supermarket now

C *

 

  • No.17

Some students always arrives at school early in the morning

A                                             B                             C             D

Jawaban

Jawabannya adalah B, karena kata kerja dan harus menggunakan ing karena keadaannya sedang berlangsung

yang benar

Some students always arriving at school early in the morning

B*

Amaliah (10208102)

Softskill Bahasa Inggris Bisnis 2

Hal 34

  • No.16

How much is a kilos of apples in the supermarket now

A                  B       C                              D

Jawaban

Jawabannya C, alasannya kata kilos tidak usah memakai S karena sudah diwakili oleh apples

yang menunjukan jumlah banyak

yang benar

How much is a kilo of apples in the supermarket now

C *

 

 

 

 

  • No.17

Some students always arrives at school early in the morning

A                                             B                             C             D

Jawaban

Jawabannya adalah B, karena kata kerja dan harus menggunakan ing karena keadaannya sedang berlangsung

yang benar

Some students always arriving at school early in the morning

B*

Pasar Oligopoli adalah suatu bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar (price leader). Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh.

Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.

Di Indonesia pasar oligopoli dapat dengan mudah kita jumpai, misalnya pada pasar semen, pasar layanan operator selular, pasar otomotif serta pasar yang bergerak dalam industri berat.

Ciri-ciri oligopoli

1. Terdapat beberapa penjual

2. Barang yang dijual homogen atau beda corak

3. Sulit dimasuki perusahaan baru

4. Membutuhkan peran iklan

5. Terdapat satu market leader (pemimpin pasar)

6. Harga jual tidak mudah berubah

 

Macam-macam Pasar Oligopoli

1. Oligopoli murni : menjual barang yang homogen. Biasanya banyak  dijumpai dalam industri yang menghasilkan bahan  mentah.

Contoh : pasar semen, produsen bensin

2. Oligopoli diferensial : menjual barang berbeda corak. Barang seperti itu umumnya adalah barang akhir.

Contoh : pasar mobil, pasar sepeda motor

Kebaikan Pasar Oligopoli

1. Memberi kebebasan memilih bagi pembeli.

2. Mampu melakukan penelitian dan

pengembangan produk.

3. Lebih memperhatikan kepuasan konsumen

karena adanya persaingan penjual.

4. Adanya penerapan teknologi

 

Keburukan Pasar Oligopoli

 

1. Menciptakan ketimpangan distribusi pendapatan

2. Harga yang stabil dan terlalu tinggi bisa mendorong

timbulnya inflasi

3. Bisa timbul pemborosan biaya produksi apabila ada

kerjasama antar oligopolis karena semangat

bersaing kurang

4. Bisa timbul eksploitasi terhadap pembeli dan pemilik

faktor produksi

5. Sulit ditembus/dimasuki perusahaan baru

6. Bisa berkembang ke arah monopoli

 

 

Contoh Perilaku Oligopoli pada Industri Telekomunikasi

Ada hal menarik yang dapat dicermati dari gencarnya perang tarif percakapan melalui telepon seluler akhir-akhir ini, yaitu masing-masing provider mengklaim bahwa mereka telah memberikan harga terbaik bagi para pelanggannya. Simak saja misalnya bagaimana perilaku tiga operator telepon seluler terbesar di Indonesia (PT. Telkomsel, PT. Indosat, dan PT. Exelcomindo Pratama) dalam mengibarkan bendera perang pemasaran dengan menawarkan tarif percakapan di bawah Rp1 per detik. Terlepas dari iming-iming menarik yang ditawarkan, perang tarif yang diluncurkan para operator telepon seluler kini sebenarnya sudah memasuki ranah yang mengusik perhatian kita kalau tidak mau dikatakan sudah membingungkan atau bahkan menjebak bagi pelanggan individual.

Kreatifitas para operator dalam merumuskan skema tarif percakapan ternyata mampu mengacak-acak perilaku pelanggan sehingga membuat pelanggan individual seringkali penasaran dan terpancing emosinya. Simak saja bagaimana operator XL menawarkan tarif Rp 0,1 per detik ke sesama operator;  sementara Telkomsel Simpati PeDe menawarkan Rp 0,5 per detik.  Indosat Mentari menawarkan Rp 0 pada menit pertama ke sesama operator; dan IM3 menawarkan tarif Rp 0,01 per detik ke seluruh operator untuk percakapan 90 detik pertama dan selebihnya menggunakan tarif Rp 15 per detik ke sesama operator dan Rp25 per detik ke operator lain.  Belum lagi, operator-operator lain kini juga mulai sibuk menawarkan tarif paling murah ke sesama pelanggan dengan syarat dan kondisi tertentu.

Dengan perkembangan yang ada itu sebenarnya lumrah saja kalau kemudian ada yang bertanya apakah memang pelanggan telepon seluler selama ini telah diperlakukan secara wajar oleh para operator telepon?  Pertanyaan ini muncul karena memang pelanggan tidak memiliki informasi yang cukup mengenai berapa sebenarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh para operator untuk menyediakan jasanya ke publik.  Memang bukan menjadi kewajiban operator untuk mendeklarasi urusan internal perusahaannya ke publik, tetapi persaingan tarif yang terjadi sebenarnya secara implisit mengindikasi adanya ketidakwajaran perolehan manfaat antara produsen dan pelanggan telekomunikasi.  Pelanggan sebenarnya juga menyadari bahwa investasi di telekomunikasi tidak bisa tergolong murah, terutama untuk mendapatkan lisensi, memilih platform teknologi, dan kemudian membangun infrastruktur fisik yang tersebar di seluruh wilayah negeri.  Masyarakat kemudian bisa menerima berapa pun tarif berbicara via telepon seperti yang ditawarkan oleh para operator.  Pelanggan seolah tidak berdaya untuk menolak tawaran harga yang disampaikan para operator karena masyarakat sendiri memang seolah terbuai dengan janji manis dalam mobilitas berkomunikasi.  Lebih dari itu, “rasa haus” berlebihan yang selama ini dirasakan masyarakat akibat adanya kelangkaan akses dan koneksi telepon seolah terobati dengan pemunculan peranti komunikasi bergerak, seperti halnya mobile phone atau di Indonesia lebih populer dengan sebutan hand phone.

Mobilitas berkomunikasi kini seolah menjadi kebutuhan masyarakat, dan bukan lagi barang mewah yang didominasi oleh sekelompok orang berduit yang mampu membeli peranti telepon bergerak yang sekaligus juga berfungsi sebagai simbol status seperti halnya yang terjadi pada era 1980-an yang lalu.  Masyarakat di negeri ini nampaknya kini lebih cenderung untuk memperhatikan pada berapa besaran ongkos percakapan yang wajar dibanding dengan membuat kalkulasi bertelepon dalam satuan waktu tarif percakapan per detik yang murah.  Hampir semua operator memang memberi harga penawaran yang relatif lebih murah untuk percakapan ke sesama operator dibanding tarif antar operator.  Satu hal yang perlu mendapat perhatian bersama adalah bahwa jebakan tarif seperti yang terjadi ini sebenarnya mengingatkan masyarakat pengguna jasa telepon seluler untuk lebih berhati-hati atau lebih pas untuk dikatakan lebih cermat terhadap tawaran telepon murah yang diluncurkan oleh para operator.

Tesis yang diajukan dalam tulisan ini sebenarnya adalah bahwa kalau industri telekomunikasi di negeri ini bergerak secara efisien, sudah semestinya pelanggan mendapat harga layanan yang wajar.  Jadi, pelanggan berhak mendapat kemanfaatan atas sejumlah sumberdaya yang telah dikeluarkannya.  Itu pula sebabnya, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menolak adanya kecenderungan penurunan tarif telepon ke sesama operator, tetapi justru lebih sebagai upaya untuk menyadarkan pelanggan bahwa tawaran harga yang wajar, yaitu harga yang mendekati daya-beli bagi pelanggan, sebenarnya adalah hak dan merupakan suatu hal yang perlu didapat pelanggan dan bukan sekedar diberi iming-iming yang diumbar oleh para operator telepon seluler.

Switching Behavior

Pada dasarnya iklim persaingan yang dihadapi oleh operator telepon seluler di Indonesia kini sudah mendekati pada situasi yang bersifat oligopoly.  Ada tiga karakteristik kunci yang melekat pada situasi pasar oligopoly, yaitu: (1) pergerakan industri didominasi oleh kiprah beberapa operator dengan skala besar; (2) masing-masing operator menjual atau menawarkan produk yang identik atau memiliki pembedaan yang relatif terbatas; dan (3) industri memiliki barrier to entry yang signifikan besarannya sehingga tidak mudah bagi pendatang baru untuk masuk ke dalam industri yang dimaksud.  Dari perspektif operator telepon seluler, penerapan strategi pemasaran pada situasi pasar yang bersifat oligopoli tentu memerlukan upaya ekstra terutama dalam memaknai elastisitas harga terhadap besaran permintaan pulsa oleh pelanggan.

Secara teoritis, elastisitas harga terhadap permintaan suatu produk akan sangat ditentukan oleh karakteristik pasar, kategori produk, kategori branding yang melekat pada suatu produk, preferensi terhadap waktu, dan kondisi perekonomian makro (lihat:Bijmolt, T.H.A., Van Heerde, J.H.,  dan Pieters, G.M.R.,”New Empirical Generalizations on the Determinants of Price Elasticity”, Journal of Marketing Research, Vol. XLII, May 2005, pp141-156). Satu hal penting dari temuan empiris itu adalah bahwa upaya korporasi dalam mengakomodasi price endogeneity seperti yang dimaksudkan itu ternyata mempunyai imbas yang kuat pada besaran elastisitas harga suatu produk. Itu artinya, bagi kepentingan pelaku industri telekomunikasi, perang tarif yang selama ini telah berlangsung sebenarnya hanya dapat dijustifikasi sampai pada suatu titik di mana kebijakan penurunan tarif per satuan waktu akan berimbas pada penurunan jumlah permintaan pulsa telepon.  Dengan kata lain, rasionalitas ekonomis yang ada dalam benak pelanggan akan menentukan tingkat sensitifitas mereka terhadap kebijakan agresif mengenai tarif telepon.

Dengan mencermati perkembangan pasar yang ada sekarang ini, sebenarnya masih ada peluang bagi para operator untuk mendongkrak tingkat penetrasi pasar, terutama untuk segmen yang berpotensi menjadi pengguna jasa telekomunikasi di masa datang.  Hanya saja, hal yang mungkin perlu diwaspadai oleh para operator adalah bahwa bisa saja, karena faktor emosi sesaat dalam menetapkan tarif psikologis seperti yang diadopsi para operator selama ini, justru akan berpengaruh pada pergeseran perilaku pelanggan untuk beralih operator (switching behavior).  Kalau hal ini terjadi, maka tidak mustahil kalau pada gilirannya nanti loyalitas pelanggan terhadap suatu produk atau operator telepon tertentu menjadi sesuatu yang sulit dicapai.  Pelanggan mungkin saja tetap mendapat kepuasan terhadap suatu operator tertentu, namun tetap saja mereka beralih operator, karena alasan satu dan lain hal.

Sebagai penutup, dalam jangka yang menengah, perilaku beralih akan memberi peluang bagi munculnya perilaku oportunis yang hanya mementingkan kemanfaatan sesaat dan tidak mempedulikan keberlanjutan layanan prima yang diberikan kepada pelanggan.  Hal yang sudah jamak dijumpai kalau sekarang ini seseorang memiliki dua atau lebih nomor telepon seluler.  Hal ini tentu saja bukan semata-mata untuk tujuan menghindar dari pelacakan terhadap suatu nomor, tetapi lebih sebagai bentuk pencarian kenyamanan dalam melakukan percakapan melalui telepon seluler. Harapannya adalah bahwa pelanggan, terutama pelanggan individual, akan mendapatkan nilai yang optimal dari harga layanan telepon seluler yang diberikan oleh para operator. Semoga.

Pengerian pasar Monopoli

Pasar monopoli akan terjadi jika di dalam pasar konsumen hanya terdiri dari satu produsen atau penjual. Contohnya seperti microsoft windows, perusahaan listrik negara (pln), perusahaan kereta api (perumka), dan lain sebagainya. Sifat-sifat pasar monopoli :
– Hanya terdapat satu penjual atau produsen
– Harga dan jumlah kuantitas produk yang ditawarkan dikuasai oleh perusahaan monopoli
– Umumnya monopoli dijalankan oleh pemerintah untuk kepentingan hajat hidup orang banyak
– Sangat sulit untuk masuk ke pasar karena peraturan undang-undang maupun butuh sumber daya yang sulit didapat
– Hanya ada satu jenis produk tanpa adanya alternatif pilihan
– Tidak butuh strategi dan promosi untuk sukses

Contoh kasus monopoli yang dilakukan oleh PT. PLN

PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) adalah perusahaan pemerintah yang bergerak di bidang pengadaan listrik nasional. Hingga saat ini, PT. PLN masih merupakan satu-satunya perusahaan listrik sekaligus pendistribusinya. Dalam hal ini PT. PLN sudah seharusnya dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat, dan mendistribusikannya secara merata.

Usaha PT. PLN termasuk kedalam jenis monopoli murni. Hal ini ditunjukkan karena PT. PLN merupakan penjual atau produsen tunggal, produk yang unik dan tanpa barang pengganti yang dekat, serta kemampuannya untuk menerapkan harga berapapun yang mereka kehendaki.

Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sehingga. Dapat disimpulkan bahwa monopoli pengaturan, penyelengaraan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan sumber daya alam serta pengaturan hubungan hukumnya ada pada negara. Pasal 33 mengamanatkan bahwa perekonomian Indonesia akan ditopang oleh 3 pemain utama yaitu koperasi, BUMN/D (Badan Usaha Milik Negara/Daerah), dan swasta yang akan mewujudkan demokrasi ekonomi yang bercirikan mekanisme pasar, serta intervensi pemerintah, serta pengakuan terhadap hak milik perseorangan. Penafsiran dari kalimat “dikuasai oleh negara” dalam ayat (2) dan (3) tidak selalu dalam bentuk kepemilikan tetapi utamanya dalam bentuk kemampuan untuk melakukan kontrol dan pengaturan serta memberikan pengaruh agar perusahaan tetap berpegang pada azas kepentingan mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Fungsi PT. PLN sebagai pembangkit, distribusi, dan transmisi listrik mulai dipecah. Swasta diizinkan berpartisipasi dalam upaya pembangkitan tenaga listrik. Sementara untuk distribusi dan transmisi tetap ditangani PT. PLN. Saat ini telah ada 27 Independent Power Producer di Indonesia. Mereka termasuk Siemens, General Electric, Enron, Mitsubishi, Californian Energy, Edison Mission Energy, Mitsui & Co, Black & Veath Internasional, Duke Energy, Hoppwell Holding, dan masih banyak lagi. Tetapi dalam menentukan harga listrik yang harus dibayar masyarakat tetap ditentukan oleh PT. PLN sendiri.

  1. Krisis listrik memuncak saat PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman listrik secara bergiliran di berbagai wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode 11-25 Juli 2008. Hal ini diperparah oleh pengalihan jam operasional kerja industri ke hari Sabtu dan Minggu, sekali sebulan. Semua industri di Jawa-Bali wajib menaati, dan sanksi bakal dikenakan bagi industri yang membandel. Dengan alasan klasik, PLN berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit daya listrik yang semakin parah karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di sistem kelistrikan Jawa-Bali, yaitu di pembangkit Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta Cilacap. Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan serupa untuk pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara Karang.

Dikarenakan PT. PLN memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat sangat bergantung pada PT. PLN, tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya daerah-daerah yang kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan juga sering terjadi pemadaman listrik secara sepihak sebagaimana contoh diatas. Kejadian ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat, dan investor menjadi enggan untuk berinvestasi.

 

Daftar pustaka :

http://lppcommunity.wordpress.com/2009/01/08/etika-bisnis-monopoli-kasus-pt-perusahaan-listrik-negara/

myunanto.staff.gunadarma.ac.id

http://mmugm.ac.id/index.php/indexmanagementthough/775-perilaku-oligopoli-pada-industri-telekomunikasi

 

Definisi korupsi bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sbb:

  • perbuatan melawan hukum;
  • penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
  • memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
  • merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, diantaranya:

  • memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
  • penggelapan dalam jabatan;
  • pemerasan dalam jabatan;
  • ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
  • menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

 

Kasus  :

suap di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) adalah fakta yang tidak terbantahkan. Di Kemenpora yang dikomandoi Andi Mallarangeng, sekretaris Menpora Wafid Muharam dan dua pengusaha kontraktor proyek tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima suap sebesar Rp3,2 miliar terkait proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games Palembang. Sedangkan di Kemenakertrans yang dipimpin Muhaimin Iskandar, KPK menangkap dua pejabatnya dan pengusaha yang menyuap sebesar Rp1.5 miliar dalam “kardus duren” untuk proyek Percepatan dan Pembangunan Infrastruktur Daerah Tertinggal.

Terkuaknya misteri mafia anggaran ini harus terus ditongkrongi, jangan sampai hanya yang tertangkap tangan saja yang dijadikan korban. KPK harus berani mencolek pucuk pimpinan kementerian itu yang kemungkinan terlibat. Sebab tidak masuk akal kalau manajemen pengolaan proyek, terlebih pengaturan anggarannya tidak diketahui atau direstui pucuk pimpinan. Apalagi dari kedua kasus itu, nama kedua menteri itu disebut-sebut oleh para tersangka ikut terlibat dalam menerima suap atau setidaknya mengatur proyek (Republika,15/9/2011).

Ternyata semuanya bermuara pada Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menyusun dan mengontrol kebijakan anggaran negara. Seperti nyanyian Nazaruddin, anggota fraksi yang ditempatkan di Banggar mengakali dana proyek dengan melibatkan kementerian dan pengusaha yang sebelumnya sudah didesain akan memenangkan tender. Di sinilah menurut Nazaruddin, oknum anggota Banggar menerima fee atas kerjanya menyusun aliansi strategis untuk memuluskan permainan anggaran.

Dugaan suap di kedua kementerian harus menjadi pintu masuk bagi KPK untuk menguak mafia di Banggar DPR. Mafia anggaran melalui permainan fee proyek yang diduga melibatkan anggota DPR sudah menjadi opini publik, yang harus dibuat terang agar misa menjadi fakta hukum. Lebih dari itu, akar persoalan juga perlu diapresiasi akibat konsekuensi dari UUD 1945 yang memberi peran dominan kepada DPR. Betapa tidak, DPR bergitu dominan dalam penentuan proyek-proyek pemerintah yang membuka peluang terjadinya korupsi.

Realitas memberikan indikasi, bahwa konteks masalah bukan lagi pada fungsi pengawasan dalam mekanisme “check and balances”, tetapi sudah masuk pada ranah pelaksanaan dari rencana proyek yang disodorkan pemerintah. Hak anggaran (bujet) yang dimiliki DPR telah berubah menjadi hak untuk korupsi. Makanya, dorongan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) agar UUD 1945 perlu dilakukan perubahan kelima menjadi niscaya, terutama memberikan ruang yang sama bagi DPD dengan DPR dalam fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.

 

sumber

(Republika,15/9/2011).

 

Kesimpulan

Jadi dalam etika bisnis, korupsi dapat merusak system perusahaan atau dalam berbisnis contohnya seperti diatas.

Usaha peternakan ayam negeri atau broiler mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena tingginya permintaan masyarakat akan daging. Usaha peternakan ayam ini juga memberikan keuntungan yang tinggi dan bisa menjadi sumber pendapatan bagi peternak ayam broiler tersebut. Akan tetapi, peternak dalam menjalankan usahanya masih mengabaikan prinsip-prinsip etika bisnis
Sebenarnya etika bisnis itu secara sederhana adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan usaha yang mencangkup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat Menurut bahasa Yunani Kuno, etika berasal dari kata ethikos yang berarti “timbul dari kebiasaan”. Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Tidak bisa dipungkiri, tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi dan lain sebagainya. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan.

Kembali lagi ke usaha peternakan ayam, Akhir-akhir ini usaha peternakan ayam dituding sebagai usaha yang ikut mencemari lingkungan. banyaknya peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat dirasakan mulai mengganggu oleh warga terutama peternakan ayam yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan ayam karena masih banyak peternak yang mengabaikan penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan yang berupa feses (kotoran ayam), dan sisa pakan serta air dari pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di sekitar lokasi peternakan tersebut. Tidak jauh dari rumah saya banyak berdiri peternakan ayam di tengah-tengah penduduk yang tidak jarang terjadi perselisihan antara masyarakat yang berada di sekitar peternakan tersebut dengan pemilik ternak tersebut. Masyarakat mengeluhkan polusi udara atau bau yang tidak sedap dari limbah peternakan ayam tersebut, yang dikarenakan kurangnya manajemen dalam pengelolaan limbah ternak. Selain itu timbulnya banyak lalat yang dikarenakan kurang bersih dan dirawatnya kandang, masyarakat takut lalat tersebut nantinya membawa penyakit. Dan satu lagi dari peternakan ayam negeri masyarakat mengkhawatirkan virus flu burung Avian Infuenza (H5N1)yang pada saat tahun 2008 lagi sedang gempar-gemparnya

Oleh karena itu, peternak ayam negeri atau broiler harus memiliki etika bisnis yang baik bukan hanya mencari keuntungan semata namun juga harusmenciptakan lingkungan yang sehat di sekitar peternakan. Dengan cara pengelolaan limbah yang baik msalkan dijadikan pupuk untyuk tanaman atau untuk pakan ikan lele, menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan penyemprotan kandang disinfetan secara berkala agar tidak timbul banyak lalat & penyakit

Sumber

Andy hariman(2010). http://andyhariman.blogspot.com/2010/01/pengertian-etika-bisnis.html , 23 september 2011

Rosi (2010). http://rosicute.wordpress.com/2010/11/23/pengertian-etika-bisnis/, 23 september 2011

 

Pengertian adil

adalah sebuah kata yang sering kita dengar. Di setiap kalimat yang diucapkan saat membahas hal-hal berkaitan dengan sosial kemasyarakatan, hampir selalu muncul kata “adil” ini. Lalu, bagaimana sesungguhnya makna dari kata “adil” tersebut? Nah, ini merupakan suatu hal yang tidak mudah untuk memberi “definisi adil” secara langsung, jelas dan terang, serta tentu saja bisa memuaskan semua pihak.

Menurut W.J.S Poerwadarminta dalam KamusBesar bahasa Indonesia memberikan pengertian adil itu dengan yang pertama tidak berat sebelah (tidak memihak) pertimbangan yang adil, putusan itu dianggap adil; kedua mendapat perlakuan yang sama.

Menurut Drs. Kahar Masyhur memberikan defenisi tentang adil adalah
1. Adil ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya
2. Adil adalah menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang
3. Adil adalah memberikan hak setiap yang berhak secara lengkap tanpa lebih tanpa kurang antara sesama yang berhak, dalam keadaan yang sama dan penghukuman orang jahat atau yang melanggar hukum sesuai dengan kesalahan dan pelanggarannya.

Kalau dilihat secara umum atau gambaran umum yang berlaku di masyarakat tentang “pengertian adil”, maka bisa saya simpulkan bahwa “bersikap adil” berarti menunjukkan sikap berpihak kepada yang benar, tidak berat sebelah, dan tidak memihak salah satunya.

Di bawah ini ada beberapa sudut pandang mengenai “bersikap adil” WURYANANO Blog:

1.      Adil berdasarkan egoisme pribadi

Pandangan seperti ini tentu saja menilai suatu tindakan atau perbuatan siapa pun, yang pasti selalu dikaitkan dengan keuntungan diri sendiri, seberapa besar keuntungan yang diperolehnya, itulah yang sangat berpengaruh pada makna adil di sini. Mereka dengan paham seperti ini punya kecenderungan tidak mau tahu orang lain, yang penting adalah keuntungan diri sendiri.

2.      Adil berdasarkan egoisme kelompok

Pandangan tentang adil seperti ini, hampir mirip dengan pandangan adil berdasarkan egoisme pribadi. Bedanya, penganut paham ini bisa sedikit berpandangan lebih luas mengenai keadilan, yaitu adil untuk kelompoknya sendiri. Jika dia merasa kelompoknya atau keluarganya memperoleh hasil-hasil bagus dari sesuatu, dari siapa pun, maka dia juga akan berseru bahwa itu memang adil.

3. Adil berdasarkan “kelayakan bagi orang lain”:Inilah pandangan yang dipegang oleh orang-orang dengan idealisme tinggi dan penuh rasa peduli dengan sesama. Mereka dengan paham seperti ini akan selalu memperjuangkan “rasa keadilan” bagi sesama. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapa pun, selalu dicermati dengan sudut pandang, seberapa jauh perbuatan itu bisa bermanfaat bagi banyak orang.

4. Adil berdasarkan “kesamaan derajat”:

Menurut saya inilah sebagian besar “paham keadilan” yang banyak dipegang oleh orang. Mungkin juga Anda termasuk di dalamnya. Penganut paham ini, saya pikir memang bisa lebih bersikap adil, baik terhadap sesama orang, maupun terhadap dirinya sendiri. Ini bagi saya merupakan paham yang paling cocok dan ideal untuk semua orang.

Keadilan

Sedangkan  menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelanggaran terhadap proposi tersebut berarti ketidak adilan.
keadilan merupakan suatu tindakan atau putusan yang diberikan terhadap suatu hal (baik memenangkan/memberikan dan ataupun menjatuhkan/menolak) sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku.

Tiga unsur – unsur keadilan :

  1. Keterikatan dengan lain : Hubungan antar orang.
  2. Adanya kewajiban (duty) pada sesoarang untuk memenuhi hak pihak lain.
  3. Kesetaraan (Equality)

Jenis – jenis keadilan :

  1. Keadilan umum (General Justice)

Mewujudkan kebaikan bersama bagi masyarakat (common of one’s community)

  1. Keadilan distributive (distributive justice)
  2. Keadilan komunikatif (communicative justice)
    keadilan dalam hubungan hokum antara para pihak, misalkan kontrak, ganti rugi dalam peristiwa, perbuatan melawan hukum

CONOTH:
HUKUM HANYA BERLAKU BAGI PENCURI KAKAO, PENCURI PISANG, & PENCURI SEMANGKA‘(Koruptor Dilarang Masuk Penjara)’
Supremasi hukum di Indonesia masih harus direformasi untuk menciptakan kepercayaan masyarakat dan dunia internasional terhadap sistem hukum Indonesia. Masih banyak kasus-kasus ketidakadilan hukum yang terjadi di negara kita. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

Keadaan yang sebaliknya terjadi di Indonesia. Bagi masyarakat kalangan bawah perlakuan ketidakadilan sudah biasa terjadi. Namun bagi masyarakat kalangan atas atau pejabat yang punya kekuasaan sulit rasanya menjerat mereka dengan tuntutan hukum. Ini kan tidak adil !!

Kasus Nenek Minah asal Banyumas yang divonis 1,5 bulan kurungan adalah salah satu contoh ketidakadilan hukum di Indonesia. Kasus ini berawal dari pencurian 3 buah kakao oleh Nenek Minah. Saya setuju apapun yang namanya tindakan mencuri adalah kesalahan. Namun demikian jangan lupa hukum juga mempunyai prinsip kemanusiaan. Masak nenek-nenek kayak begitu yang buta huruf dihukum hanya karena ketidaktahuan dan keawaman Nenek Minah tentang hukum.

Menitikkan air mata ketika saya menyaksikan Nenek Minah duduk di depan pengadilan dengan wajah tuanya yang sudah keriput dan tatapan kosongnya. Untuk datang ke sidang kasusnya ini Nenek Minah harus meminjam uang Rp.30.000,- untuk biaya transportasi dari rumah ke pengadilan yang memang jaraknya cukup jauh. Seorang Nenek Minah saja bisa menghadiri persidangannya walaupun harus meminjam uang untuk biaya transportasi. Seorang pejabat yang terkena kasus hukum mungkin banyak yang mangkir dari panggilan pengadilan dengan alasan sakit yang kadang dibuat-buat. Tidak malukah dia dengan Nenek Minah?. Pantaskah Nenek Minah dihukum hanya karena mencuri 3 buah kakao yang harganya mungkin tidak lebih dari Rp.10.000,-?. Dimana prinsip kemanusiaan itu?. Adilkah ini bagi Nenek Minah?.

Bagaimana dengan koruptor kelas kakap?. Inilah sebenarnya yang menjadi ketidakadilan hukum yang terjadi di Indonesia. Begitu sulitnya menjerat mereka dengan tuntutan hukum. Apakah karena mereka punya kekuasaan, punya kekuatan, dan punya banyak uang ?, sehingga bisa mengalahkan hukum dan hukum tidak berlaku bagi mereka para koruptor. Saya sangat prihatin dengan keadaan ini.

Sangat mudah menjerat hukum terhadap Nenek Minah, gampang sekali menghukum seorang yang hanya mencuri satu buah semangka, begitu mudahnya menjebloskan ke penjara suami-istri yang kedapatan mencuri pisang karena keadaan kemiskinan. Namun demikian sangat sulit dan sangat berbelit-belit begitu akan menjerat para koruptor dan pejabat yang tersandung masalah hukum di negeri ini. Ini sangat diskriminatif dan memalukan sistem hukum dan keadilan di Indonesia. Apa bedanya seorang koruptor dengan mereka-mereka itu?.

Saya tidak membenarkan tindakan pencurian oleh Nenek Minah dan mereka-mereka yang mempunyai kasus seperti Nenek Minah. Saya juga tidak membela perbuatan yang dilakukan oleh Nenek Minah dan mereka-mereka itu. Tetapi dimana keadilan hukum itu? Dimana prinsip kemanusian itu?. Seharusnya para penegak hukum mempunyai prinsip kemanusiaan dan bukan hanya menjalankan hukum secara positifistik.

Inilah dinamika hukum di Indonesia, yang menang adalah yang mempunyai kekuasaan, yang mempunyai uang banyak, dan yang mempunyai kekuatan. Mereka pasti aman dari gangguan hukum walaupun aturan negara dilanggar. Orang biasa seperti Nenek Minah dan teman-temannya itu, yang hanya melakukan tindakan pencurian kecil langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Sedangkan seorang pejabat negara yang melakukan korupsi uang negara milyaran rupiah dapat berkeliaran dengan bebasnya.

Oleh karena itu perlu adanya reformasi hukum yang dilakukan secara komprehensif mulai dari tingkat pusat sampai pada tingkat pemerintahan paling bawah dengan melakukan pembaruan dalam sikap, cara berpikir, dan berbagai aspek perilaku masyarakat hukum kita ke arah kondisi yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tidak melupakan aspek kemanusiaan.

 

Sumber

http://wuryanano.blogspot.com/2007/09/pengertian-adilmenurut-saya.html

http://www.scribd.com/doc/51644044/7/JENIS-JENIS-KEADILAN

http://shadowisimmortality.blogspot.com/2010/05/ketidak-adilan-hukum-dan-contoh.html

http://ocw.gunadarma.ac.id/course/psychology/study-program-of-psychology-s1/ilmu-budaya-dasar/manusia-dan-keadilan.

Konflik Buruh Dengan Perurahaan

Perusahaan manapun pasti pernah mengalami konflik internal. Mulai dari tingkat individu, kelompok, sampai unit. Mulai dari derajat dan lingkup konflik yang kecil sampai yang besar. Yang relatif kecil seperti masalah adu mulut tentang pribadi antarkaryawan, sampai yang relatif besar seperti beda pandangan tentang strategi bisnis di kalangan manajemen. Contoh lainnya dari konflik yang relatif besar yakni antara karyawan dan manajemen. Secara kasat mata kita bisa ikuti berita sehari-hari di berbagai media. Disitu tampak konflik dalam bentuk demonstrasi dan pemogokan. Apakah hal itu karena tuntutan besarnya kompensasi, kesejahteraan, keadilan promosi karir, ataukah karena tuntutan hak asasi manusia karyawan
Adapun beragam jenis konflik seperti :
• Konflik vertikal yang terjadi antara tingkat hirarki,seperti antara manajemen puncak dan manajemen menengah, manajemen menengah dan penyelia, dan penyelia dan subordinasi. Bentuk konflik bisa berupa bagaimana mengalokasi sumberdaya secara optimum, mendeskripsikan tujuan, pencapaian kinerja organisasi, manajemen kompensasi dan karir.
• Konflik Horizontal, yang terjadi di antara orang-orang yang bekerja pada tingkat hirarki yang sama di dalam perusahaan. Contoh bentuk konflik ini adalah tentang perumusan tujuan yang tidak cocok, tentang alokasi dan efisiensi penggunaan sumberdaya, dan pemasaran.
• Konflik di antara staf lini, yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki tugas berbeda.

Misalnya antara divisi pembelian bahan baku dan divisi keuangan. Divisi pembelian mengganggap akan efektif apabila bahan baku dibeli dalam jumlah besar dibanding sedikit-sedikit tetapi makan waktu berulang-ulang. Sementara divisi keuangan menghendaki jumlah yang lebih kecil karena terbatasnya anggaran. Misal lainnya antara divisi produksi dan divisi pemasaran. Divisi pemasaran membutuhkan produk yang beragam sesuai permintaan pasar. Sementara divisi produksi hanya mampu memproduksi jumlah produksi secara terbatas karena langkanya sumberdaya manusia yang akhli dan teknologi yang tepat.
• Konflik peran berupa kesalahpahaman tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh seseorang. Konflik bisa terjadi antarkaryawan karena tidak lengkapnya uraian pekerjaan, pihak karyawan memiliki lebih dari seorang manajer, dan sistem koordinasi yang tidak jelas.
Adapun kasus konflik perusahaan seperti antara buruh dengan PT Megariamas Sekitar 500 buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Garmen Tekstil dan Sepatu-Gabungan Serikat Buruh Independen (SBGTS-GSBI) PT Megariamas Sentosa, Selasa (23/9) siang ‘menyerbu’ Kantor Sudin Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Jakarta Utara di Jl Plumpang Raya, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka menuntut pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang mempekerjakan mereka karena mangkir memberikan tunjangan hari raya (THR).
Contoh Konflik ini masuk katagori konflik vertikal karena pihak manajemen puncak dan manajemen menengah tidak melakukan koordinasi dengan buruh tentang pemberian tunjangan hari raya sehingga pihak buruh melakuan demonstrasi.

Sedangkan menurut etika bisnis konflik ini sangat merugikan perusahaan karena dengan adanya demonstrasi tersebut perusahaan tidak bisa menghasilkan produk dalam sehari itu sehingga dapat mengalami kerugian cukup besar sedangkan bagi buruh tetap harus memperjuangkan tunjangan hari raya yang seharusnya mereka dapat. Sebaiknya perusahaan harus memberikan tunjangan tersebut agar tidak mengalamo kerugian yang lebih besar lagi karena tanpa adanya buruh perusahaan tidak dapat mengahasilkan produknya.
REF : http://generasikertasmaya.blogspot.com/2009/11/konflik-buruh-dengan-pt-megariamas.html

 

Pengertian CSR

 

CSR (Corporate Social Responsibilies)  adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya  untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, melainkan pula untuk pembangunan sosial-ekonomi kawasan secara holistik, melembaga dan berkelanjutan.

 

Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan dan bahkan sering diidentikkan dengan CSR adalah corporate giving, corporate philanthropy, corporate community relations, dan community development.

 

Ditinjau dari motivasinya, keempat nama itu bisa dimaknai sebagai dimensi atau pendekatan CSR.   Jika   corporate  giving  bermotif  amal  atau  charity,  corporate  philanthropy  bermotif kemanusiaan, dan corporate community relations bernafaskan tebar pesona, maka community development lebih bernuansa pemberdayaan (Briliant dan Rice, 1988; Burke, 1988; Suharto, 2007a).

 

Dalam  konteks  pemberdayaan,  CSR  merupakan  bagian  dari  policy  perusahaan  yang dijalankan secara profesional dan lembaga. CSR kemudian identik dengan CSP (corporate social policy), yakni strategi dan roadmap perusahaan yang mengintegrasikan tanggung jawab ekonomis  korporasi  dengan  tanggung  jawab  legal,  etis,  dan  sosial  sebagaimana  konsep piramida CSR-nya Archie B. Carol (Suharto, 2007a) .

 

Dalam literatur pekerjaan sosial (social work), CSR termasuk dalam gugus Pekerjaan Sosial Industri,  industrial  social  work  atau  occupational  social  work  (Suharto,  2007a).  Pekerjaan Sosial Industri mencakup pelayanan sosial internal dan eksternal.

 

Beragam  cara  dilakukan  perusahaan  untuk  menjalankan  CSR.  Ada  perusahaan  yang melaksanakan  CSR  sendiri,  mulai  dari  perencanaan  hingga  implementasinya.  Ada  pula perusahaan  yang  mendirikan  yayasan,  bermitra  dengan  pihak  lain  atau  bergabung  dalam konsorsium.

 

Model mana yang dipilih sangat tergantung pada visi dan misi perusahaan, sumberdaya yang dimiliki, serta tuntutan eksternal (misalnya kondisi masyarakat lokal, tekanan pemerintah atau LSM).

 

Manfaat bagi masyarakat, antara lain:

aktivitas dan peluang ekonomi, employment, akses terhadap skill dan teknologi, infrastruktur yang meningkat, perlindungan terhadap lingkungan, kesehatan serta investasi social.

Keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan jika melakukan program Corporate Social Responsibility, yaitu:
Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan image perusahaan Perbuatan destruktif pasti akan menurunkan reputasi perusahaan, sebaliknya kontribusi positif pasti akan mendongkrak image dan reputasi positif perusahaan. Image / citra yang positif ini penting untuk menunjang keberhasilan perusahaan.

Contoh : perusahaan indosat

sebagai bentuk refleksi komitmen dan tanggungjawab Indosat sebagai perusahaan di Indonesia yang peduli atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, serta upayanya untuk senantiasa berkarya, memberikan manfaat, serta mengajak peran serta seluruh stakeholder untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih baik, yang merupakan terjemahan dari keinginan masyarakat pada umumnya untuk terlibat secara aktif dalam berbagai program sosial Indosat. perusahaan yang menerapkan Corporate Social Responsibility adalah PT Indosat.

Manfaat CSR  terhadap perusahaan (Wikipedia, 2008):

 

  1. Brand   differentiation.  Dalam  persaingan  pasar  yang  kian  kompetitif,  CSR  bisa memberikan  citra perusahaan yang khas, baik, dan etis di mata publik yang pada gilirannya  menciptakan customer loyalty. The Body Shop dan BP (dengan bendera “Beyond  Petroleum”-nya), sering  dianggap  sebagai memiliki  image  unik  terkait isu lingkungan.
  2. Human resources. Program CSR dapat membantu dalam perekrutan karyawan baru, terutama yang memiliki kualifikasi tinggi. Saat interviu, calon karyawan yang memiliki pendidikan  dan  pengalaman  tinggi  sering  bertanya  tentang  CSR  dan  etika  bisnis perusahaan, sebelum mereka memutuskan menerima tawaran. Bagi staf lama, CSR juga dapat meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi dalam bekerja.
  3. License  to   operate.    Perusahaan   yang   menjalankan   CSR   dapat   mendorong pemerintah  dan  publik  memberi  ”ijin”  atau  ”restu”  bisnis.  Karena  dianggap  telah memenuhi standar operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas.
  4. Risk management. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan.

Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal  korupsi,  kecelakaan  karyawan,  atau  kerusakan  lingkungan.  Membangun budaya ”doing the right thing” berguna bagi perusahaan dalam mengelola resiko-resiko bisnis.

 

SUMBER

Edi Suharto, PhD2

Suharto, Edi (2007a),  Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat Tanggungjawab Sosial

Perusahaan (Corporate Social Responsibility), Bandung: Refika Aditama

 

Wikipedia   (2008),    Corporate  Social  Responsibility, http://en.wikipedia.org/wiki/Corporate social_responsibility (diakses 6 Februari)

 

http://www.indosat.com

 

_